top
logo

Login Form

SALAK BALI TANPA DURI

SALAK BALI TANPA DURI

Pendahuluan

 

Salak Bali tanpa duri (salak Jaka. bhs.Bali)  dikembangkan dengan menggunakan cara seleksi bibit dari salak Kelapa sebagai induknya atau tetuanya, yang merupakan salah satu dari 10 kultivar salak Bali. Semula salak Kelapa terdapat di kebun petani salak di desa Sibetan Kecamatan Bebandem Kabupaten Karangasem yang dikembangkan ke Kecamatan Selat dan Rendang tahun 70 an. Adanya salak Kelapa merupakan mutasi gen secara alami, dimana salak Bali yang kehilangan sebagian durinya sehingga durinya berkurang sekitar 50% dan panjang duri salak Kelapa tidak sepanjang salak Bali kultivar lainnya.

 

 

Description: C:\Users\TOSHIBA\Desktop\foto salak tapa duri\DSC03097.JPG

 

Budidaya tanaman salak tanpa duri sama dengan budidaya salak bali, perbedaannya pada duri pelepahnya. Budidaya salak bali

Disampaikan pada Penas KTNA di Malang pada tanggal….. Juni 2014 oleh KTNA BALI.

----------------------------------------------------------------

 

tanpa duri akan sangat mudah dalam pemeliharaannya dan panennya.  Tanaman salak bali tanpa duri baik dikembangkan sebagai tanaman agrowisata, perkebunan  untuk penangkal buah import, menjadikan buah local sebagai raja di negeri sendiri.

Deskripsi

 

Tinggi tanaman 5 – 7 m, lebar tajuk 5.5 – 7.5 m, bentuk tanaman/ batang tegak bulat terdapat bekas-bekas pelepah daun, helaian pelepah daun panjangnya 3.0 – 3.7 m, jarak antara helaian daun bagian bawah 6.0-9.0 cm atas 5.0-6.5 cm, warna permukaan daun bagian atas hijau tua dan bagian bawah hijau keabuan, kedudukan daun majemuk menyirip berseling, bunga hemaprodit bunga jantan tersusun terletak pada satu tongkol yang sama, bentuk bunga tongkol majemuk, kedudukan bunga pada punggung pangkal pelepah, warna bunga merah muda, tongkol bunga panjangnya 16-24 cm, seludang bunga panjangnya 18-26 cm berbentuk perahu telungkup, tangkai putik pendek berwarna merah muda, panjang tandan 18-25 cm, jumlah buah per tandan 22-28 buah, bentuk buah bulat sampai bulat lonjong, panjang buah 4.8-8.5 cm, kulit buah bersisik, tersusun seperti genteng berwarna coklat sampai coklat kehitaman, ujung buah membulat, dinding kulit bagian dalam berwarna putih berserat, warna daging buah kuning susu (krem), berat buah 40-105 g, sifat buah muda rasanya sepat, buah tua rasanya sangat manis, asam dan sepat berimbang, aromanya agak tajam, ketebalan daging buah 0.5-1.8 cm, tekstur daging buah keras, agak renyah sampai renyah dan tidak berserat, biji 1-3 butir (kebanyakan 1-2 butir), biji tua berwarna coklat kehitaman, Penyerbukan bersifat kleistogami (tidak terdapat tanaman jantan atau betina) dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif.

Tanah

 Salak

Jenis tanah yang paling cocok adalah tanah liat berpasir (teksturnya agak halus sampai halus). Tanah seperti ini disamping gembur juga lembab. Bila menanam salak di tanah liat, sering terjadi genangan air yang mengganggu. Pohon salak umumnya tidak suka akan adanya genangan air. Hal ini akan menyebabkan akar-akar salak menjadi sulit bernapas. Jenis tanah liat pada musim hujan terasa lengket dan sulit meresapkan air. Lambat laun akar tanaman bisa lembek dan membusuk. Fungsi akar sebagai pengangkut bahan makanan menjadi terganggu sehingga tanaman sulit untuk bertahan hidup. Tanah berpasir mempunyai porositas tinggi. Ini dikarenakan hubungan antara partikel-partikel pasir tidak rapat. Pori-pori antar partikelnya memungkinkan air dan udara mudah beredar di dalam tanah. Tetapi, daya simpan air pada tanah berpasir sangat kurang. Hal ini mengakibatkan persediaan air tanah yang diperlukan bagi tanaman salak sulit dipenuhi.

 

Gabungan kedua jenis tanah liat dan pasir adalah kombinasi lahan yang baik untuk tanaman salak. Kekurangan yang terdapat pada tanah liat dapat dibantu oleh pasir. Sebaliknya kekurangan yang terdapat pada tanah berpasir dapat dibantu oleh tanah liat. Hal inilah yang menjadi alasan tanah liat berpasir merupakan tanah yang paling cocok untuk tanaman salak. Tanah yang secara alamiah masih kaya akan unsur hara sangat baik untuk dijadikan lahan atau perkebunan salak. Warna tanah biasanya kehitaman karena humus tanah masih banyak. Lahan yang kekurangan unsur hara atau tanah kritis tidak bagus ditanami salak. Tanda-tanda tanah yang miskin akan unsur hara biasanya berwarna kemerah-merahan. Lahan yang kurang baik pun sebenarnya dapat ditanami salak, dengan penambahan pupuk organik seperti kompos,  pupuk kandang, dan sebagainya akan membantu memperbaiki struktur tanah menjadi gembur. Sedangkan unsur hara yang kurang dapat ditambah dengan pupuk anorganik yang mengandung unsur hara lebih tinggi dibandingkan pupuk organik.

 

Salak Tanpa Duri

 

Tinggi Tempat

 

Tanaman salak tanpa duri dapat tumbuh baik pada tanah-tanah gembur dari dataran rendah sampai ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Produksi akan berkurang  dari tanaman salak yang ditanam lebih rendah dari 300 meter di atas permukaan laut. Batas toleransi ketinggian yang masih memungkinkan adalah 900 meter di atas permukaan laut, apabila ketinggian tempat diatas 900 meter, maka pohon salak akan sulit untuk berbuah. Dataran rendah menerima sinar matahari dalam jumlah yang besar, karena itu, tanaman salak membutuhkan naungan yang lebih rapat. Pada ketinggian 700-900 meter di atas permukaan laut, naungan tidak perlu terlalu rapat karena sinar matahari biasanya tidak terlalu terik. Tanah yang berada di kemiringan, lereng bukit, atau lembah masih memungkinkan untuk ditanami salak. Daerah pegunungan atau perbukitan (asalkan ketinggiannya tidak lebih dari 900 meter di atas permukaan laut) masih dapat dimanfaatkan. Pada kondisi lahan seperti ini, cara penanaman disesuaikan dengan garis kontur dan salak dapat ditanam dengan jarak tanam yang lebih rapat. Kerapatan tanam selain dapat menambah jumlah populasi, yang berarti jumlah tanaman produktif lebih banyak, juga berfungsi untuk konservasi alam. Akar tanaman salak akan membantu menahan tanah dari erosi yang sering terjadi di lereng pegunungan atau lereng-lereng bukit.

 

Salak Tanpa Duri

 

Iklim

 

Di Bali pada sentra tanaman salak memiliki rata-rata curah hujan per tahun berkisar antara 1090,4 – 2685,2 mm. Sedangkan suhu udara yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan serta produksi tanaman salak berkisar antara 20 – 30 derajat C.  Tanaman salak tidak menyukai sinar matahari penuh, sinar berkisar antara 70-80% sehingga petani salak menanam pohon pelindung untuk menaungi tanaman salaknya. 

 

Bibit, Penanaman, dan Pemeliharaan

 

Bibit salak tanpa duri yang akan ditanam agar berasal dari bibit yang unggul dan bermutu, yang telah berumur 6 bulan setelah biji disemai atau ditanam di polybag. Sebelum penanaman telah dipersiapkan lubang tanam 50 x 50 x 50 cm, dengan jarak tanam berkisar antara ninimal 2 meter dengan maksimal 3 meter tergantung dari kesuburan tanahnya dan penanaman dilakukan pada awal musim hujan untuk menghindari kekeringan. Tanaman muda perlu dipelihara dengan baik seperti menyiang, memupuk dan pemeliharaan, tanaman yang   tua dilakukan dengan menyiang, memupuk, membuang pelepah yang sudah tua dan juga membuang anakan yang tumbuh, serta mengendalikan hama dan penyaki yang mengganggu tanaman salak.

Morpologi Tanaman Salak Tanpa Duri

Akar

Tanaman salak tanpa duri termasuk dalam kelas Monokotil yang berakar serabut dan akar-akar tersebut menyebar dangkal dekat permukaan tanah sehingga perakarannya tidak begitu luas dan kondisi demikian menyebabkan tanaman salak sangat peka terhadap kekeringan. Sebaliknya pada kondisi lahan tergenang, akar akan sulit berrespirasi sehingga penyerapan unsur harapun terganggu, akibatnya akar bisa membusuk dan mati.

Batang

Batang tanaman salak tanpa duri tidak dapat berdiri tegak, karena itu mudah rebah. Pada batang dapat keluar tunas yang dapat berakar sendiri, apabila dilepaskan dari induknya dapat dijadikan bibit. Apabila tunas-tunas tersebut dibiarkan tumbuh pada batang akan menjadi rumpun.

Daun

Daun salak Bali tanpa duri termasuk bertipe daun majemuk mersirip berseling. Daun berwarna hijau gelap dan tersusun secara roset, batang dan pelepah daun tumbuh condong ke atas membentuk sudut lancip dengan batang sebagai sumbu utama sehingga bentuk tanaman menjadi tegak. Pelepah daun telah kehilangan durinya. Panjang pelepah daun biasanya bervariasi antara 2,5–7 m.  tergantung dari kesuburan tanah, iklimnya dan  pemeliharaannya.

 Bunga

Bunga salak Bali tanpa duri termasuk bunga sempurna dimana pada satu pohon terdapat bunga jantan dan bunga betina, yang terdapat pada tandan dan kuntum yang sama. Sifat bunga demikian mengakibatkan bunga salak Bali bisa menyerbuk sendiri, bahkan diketahui dapat melakukan penyerbukan sebelum seludang tandan terbuka (sifat kleistogami). Oleh karena itu tidak diperlukan bantuan lain termasuk manusia untuk melakukan penyerbukan.

Pada batang dapat tumbuh tunas yang berakar sendiri, yang bila dibiarkan tumbuh di batang, tunas-tunas itu dapat tumbuh menjadi rumpun tanaman salak yang besar. Daun-daun tanaman salak bersirip, pelepahnya dapat mencapai panjang lima meter. Pelepah daun tidak berduri.  Pada setiap ketiak pelepah daun yang baru, tumbuh tongkol bunga yang tidak semuanya mekar menjadi bunga dan buah. Tongkol bunga tertutup rapat oleh beberapa kelopak daun.  Salak Bali tanpa duri pembuahanya terjadi karena proses penyerbukan sendiri (salak Bali berumah satu). Pohon salak dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, namun musim buah yang mencolok hanya permulaan musim hujan yaitu pada bulanbulan Januari - Pebruari dan musim kemarau yaitu pada bulan Juli – Agustus Buah salak tersusun pada tandan, kulit buahnya berwarna coklat, bersisik dan berduri halus.

 

Buah

 

Buah salak Bali tanpa duri siap panen bila telah berumur 5-5,5 bulan sejak seludang terbuka, bentuk buah segitiga terbalik, lonjong atau bulat. Daging buah terdiri dari 3 (tiga) segmen, dimana 1-3 kemungkinan segmen induk dan 1-2 segmen anak. Biji terdapat pada segmen induk 1-3 butir, tetapi kebanyakan 1-2 butir. Buah salak terdiri atas kulit buah, daging buah dan biji. Kulit buah yang masak mudah dikupas dari dagingnya. Jika kulit sudah terkupas maka terlihatlah pada bagian dalamnya tiga butir daging buah yang berwarna putih kekuning-kuningan yang dilindungi oleh selaput tipis yang berwarna putih yang disebut dengan kulit ari. Diantara ketiga butir daging buah, paling sedikit memiliki satu butir biji. Butir yang tidak berbiji disebut anakan. Daging buah muda berwarna putih pucat, sedangkan yang sudah tua berwarna kekuning-kuningan. Biji salak yang muda berwarna pucat dan lunak, sedangkan setelah tua biji menjadi keras dan berwarna coklat tua. Panjang biji dapat mencapai 2-3 cm,  kulit luar buah salak berfungsi sebagai pelindung secara alami terhadap daging buah yang dibungkusnya dari pengaruh keadaan lingkungan.

 

Panen

 

Musim panen raya salak Bali tanpa duri  bulan Januari-Pebruari-Maret, sedangkan panen gadu bulan Juli-Agustus. Untuk memperoleh mutu dan daya simpan salak  yang optimal, saat panen  yang tepat adalah 5 bulan setelah seludang bunga pecah (setelah persarian). Pada umur panen yang tepat, disamping akan diperoleh cita rasa buah salak yang enak, juga daya simpannya menjadi relatif lama, bisa mencapai 10 hari.  Buah salak yang siap panen bisa dilihat dari tanda-tanda fisik sebagai berikut : warna kulit buah coklat kekuningan atau coklat kemerahan, duri pada buah sudah jarang, besar buah maksimal, buah mudah lepas dari tandannya, warna biji kehitaman atau coklat kehitaman, rasa buah enak dan aroma agak tajam.

 

Penutup

 

Tanaman salak Bali tanpa duri merupakan tanaman asli Indonesia. Rasa buah yang manis, daging buah yang tebal serta merupakan tanaman hias yang indah, pemeliharaan dan panen  yang mudah sangat cocok untuk pengembangan agrowisata, dan pengembangan perkebunan luas sebagai penangkal masuknya buah import serta menjadikan buah local sebagai raja di negeri sendiri. (dari berbagai sumber).   

download makalah versi PDF

 


bottom

Bali Agrobag PT . Powered by Joomla!. Design by: themza joomla 2.5 theme  Valid XHTML and CSS.