top
logo

Jeruk Keprok Tejakula Bali

 Jeruk Kintamani Bali

Bali dikenal dengan sebutannya pulau dewata, yang secara astronomis Bali terletak pada posisi titik koordinat 08.03.40 – 08.50.48 lintang Selatan dan 114.25.53 – 115.42.40 bujur Timur, yang berbatasan dengan laut Bali di Utara, samudra Indonesia di Selatan, selat Bali di Barat dan selat Lombok di Timur. Luas wilayah provinsi Bali 5.636,66 km persegi atau 0,29% dari luas Indonesia. Provinsi Bali terbagi dalam 8 kabupaten dan 1 Kota, terluas kabupaten Buleleng 1.365,88 km persegi atau 24,23% dari luas wilayah Bali.  Kabupaten Buleleng terdiri dari  9 Kecamatan dan 148 desa/kelurahan. Kecamatannya adalah:   Gerokgak, Seririt, Busungbiu, Banjar, Buleleng, Sukasada, Sawan, Kubutambahan, dan Tejakula. Kecamatan Tejakula yang merupakan sentra tanaman jeruk terdiri dari 10 desa yaitu : Bondalem, Julah, Les, Madenan, Pacung, Penuktukan, Sambirenteng, Sembiran, Tejakula dan Tembok.

Tanaman jeruk keprok Tejakula adalah tanaman buah tahunan yang berasal dari Asia dan Cina dipercaya sebagai tempat pertama kali tumbuhnya tanaman jeruk. Sejak ratusan tahun yang lalu, jeruk sudah tumbuh di Indonesia baik secara alami atau dibudidayakan. Klasifikasi botani tanaman jeruk adalah sebagai berikut: Divisi : Spermatophyta, Sub divisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledonae, Ordo : Rutales, Keluarga : Rutaceae, Genus : Citrus, Spesies : Citrus sp. Tidak berlebihan jika jeruk menjadi komoditas buah unggulan nasional karena memiliki nilai ekonomi tinggi, adaptasinya sangat luas, sangat populer dan digemari hampir seluruh lapisan masyarakat. Kunci sukses usahatani jeruk tidak hanya bergantung pada bibit unggul, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh perencanaan pemilihan lokasi, penyiapan lahan dan pemeliharaan tanaman, yang mengacu pada budidaya yang baik dan benar.

Perencanaan merupakan rangkaian kegiatan membuat rencana tata letak yang meliputi tempat penampungan hasil sementara, bak penampungan air, arah barisan tanaman yang kaitan dengan arah dan kemiringan lahan, arah sinar matahari dan letak akses jalan usahatani yang  bertujuan untuk mendapatkan sketsa desain kebun yang optimal sehingga dapat memudahkan dalam pembudidayaan tanaman jeruk dari pra panen sampai panen dan pasca panen. Perencanaan pembuatan kebun jeruk yang baik akan menghasilkan kebun yang mempunyai populasi yang optimal baik dari segi tata letak maupun pemanfaatan lahan, sehingga dapat meminimalisir permasalahan dalam membudidayakan tanaman jeruk keprok Tejakula Bali.
Kegiatan mempersiapkan lahan yakni dengan membersihkan lahan dari sisa-sisa pertanaman,                 
benda-benda lain yang dapat mengganggu pertumbuhan dan menjadi pesaing dalam mendapatkan cahaya sinar matahari, unsur hara dan zone perakaran, sehingga tanaman jeruk dapat tumbuh dan berproduksi baik dengan mutu hasil sesuai standar. Meskipun adaptasinya luas, beberapa kelompok jeruk berproduksi optimal hanya jika ditanam di dataran rendah (sampai 400 m dpl) : pamelo, sebagian besar varietas Siam, keprok Tejakula dan Madura.  Sedangkan sebagian lain berproduksi optimal jika ditanaman di dataran tinggi (berkisar 700 m dpl): jenis keprok (Batu 55, Tawangmangu, Pulung, Garut, Kacang, dll), jeruk manis (Punten, Groveri dan WNO, dll.), jeruk Siam Madu. Tanaman jeruk menghendaki sinar matahari penuh (bebas naungan), suhu 13 - 35°C (optimum 22 - 23°C), curah hujan 1.000 - 3.000 mm/th (optimum 1.500 - 2.500 mm/th), dan bulan kering (< 60 mm) selama 2 - 6 bulan (optimum 3 - 4 bulan berturut-turut). Lahan ideal yaitu memiliki lapisan tanah yang dalam, hingga kedalaman 150 cm tidak ada lapisan kedap air, kedalaman air tanah ± 75 cm, tekstur lempung berpasir, dan pH ± 6.  Jika pH tanah dibawah 5, unsur mikro dapat meracuni tanaman dan sebaliknya tanaman akan kekurangan jika pH diatas 7.

Kecepatan angin yang lebih dari 40-48% akan merontokkan bunga dan buah. Untuk daerah yang intensitas dan kecepatan anginnya tinggi tanaman penahan angin lebih baik ditanam berderet tegak lurus dengan arah angin. Tergantung pada spesiesnya, jeruk memerlukan 5-6, 6-7 atau 9 bulan basah (musim hujan). Bulan basah ini diperlukan untuk perkembangan bunga dan buah agar tanahnya tetap lembab. Di Indonesia tanaman ini sangat memerlukan air yang cukup terutama di bulan Juli-Agustus. Temperatur optimal antara 25-30 derajat C namun ada yang masih dapat tumbuh normal pada 38 derajat C. Jeruk Keprok memerlukan temperatur 20 derajat C. Semua jenis jeruk tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari. Kelembaban optimum untuk pertumbuhan tanaman ini sekitar 70-80%.

Penyiapan lahan untuk menciptakan lingkungan yang sesuai agar tanaman jeruk dapat tumbuh dan berkembang serta berproduksi secara optimal seperti lahan dibersihkan dari tanaman pengganggu, sumber inokolum dan sisa-sisa tanaman yang tidak berguna, untuk pertanaman monokultur, lahan disekitar tanaman dibersihkan dari gulma dan naungan, yang berlebihan, kemudian hasil pembersihan lahan dikumpulkan pada lokasi tertentu untuk memudahkan pemusnahan atau dibenamkan kedalam tanah. Setelah itu perhatikan letak dan kemiringan lahan, apabila lahan memiliki kemiringan lebih dari 30% maka lahan wajib dibuatkan teras sering sesuai kontur tanah sehingga tidak terjadi erosi. Setelah lahan sudah siap, tentukan jarak tanam dengan cara memasang ajir, buatlah lubang tanam dengan ukuran 50x50x50cm atau 60x60x60 cm sesuai dengan jarak tanam optimum dan biarkan selama 1 – 2 minggu. Tanah lapisan atas dipisahkan dengan tanah lapisan bawah dan campur 20 kg pupuk kandang (bahan organik) dengan tanah lapisan/bagian atas pada setiap lubang tanam lalu tancapkan kembali ajir pada titik ditengah-tengah  lubang tanam sebagai calon tempat tanam. Biarkan 1-2 minggu sampai rata permukaan tanah, untuk tanah yang pH rendah agar ditambahkan dolomit/kapur pertanian.
Benih bermutu baik memiliki kriteria : hasil okulasi mata tempel dari Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) pada batang bawah Japansche Citroen (JC) di dalam polibag, berlabel, tinggi tanaman ± 60 cm, dan pertumbuhan serta perakarannya normal.  Kegiatan penyediaan benih jeruk keprok bermutu, bersertifikat, untuk menghasilkan buah bermutu, terjamin kemurniannya (jenis, varietas), sehat/bebas dari hama dan penyakit serta dalam  jumlah yang cukup dalam waktu yang tepat. Hal ini dapat dilaksanakan dengan menyediakan benih yang bersertifikasi dan berkualitas tinggi yang dianjurkan sesuai dengan kebutuhan dalam jumlah dan waktu yang tepat, menjamin benih yang digunakan tersebut murni secara genetik, sehat, daya tumbuhnya baik dan mempunyai daya adaptasi yang baik diwilayah yang akan ditanami.  Pelaksanaan penyediaan benih adalah dengan menghitung kebutuhan benih sesuai dengan kebutuhan lahan yang akan ditanami tanaman jeruk, dengan populasi 400-650 ph/Ha.( Jarak Tanam 3x3 cm, 4x4 m, 5x5 m ) termasuk ditambah 10% dari populasi per ha untuk cadangan penyulaman, membeli benih varietas keprok Tejakula yang sudah bersertifikat atau berlabel, pilih benih dengan diameter batang bawah ± 1-1,5 cm, tinggi antara 40 – 60 dari mata tempel dengan tehnik cangkok/okulasi. Bibit lurus dan vigor yang tinggi serta bebas dari serangan penyakit sistemik jeruk seperti CVPD, Triztesa, psorosis, Exocortis, Vien enation, Tatter leaf dan Xyloporosis, dan periksa penampilan keseluruhan benih yang baik perakaran maupun dari bagian lainnya.
Penanaman merupakan kegiatan memindahkan benih yang siap tanam ke lahan atau areal penanaman hingga tanaman berdiri tegak dan siap tumbuh dan berkembang secara optimal dilapangan. Penanaman dilakukan 2 minggu setelah penutupan lubang tanam (yang sudah ditutup /ditimbun) dilubangi kembali seukuran polybag tanaman.  Masukkan benih kedalam lubang tanaman, benih yang ditanam hendaknya benih yang tegak lurus dan perakarannya tidak melingkar, dan benih yang berasal dari okulasi dihadapkan kearah datangnya angin agar mata tempel tidak mudah rusak/patah. Sedangkan benih yang berasal dari sambungan diletakkan dengan arah celah sambungan tegak lurus dengan arah angin. Timbun dengan tanah hingga mencapai 3-4 cm diatas leher akar, dan daerah penyambungan (okulasi) tidak boleh tertutup tanah, kemudian disiram dengan air secukupnya. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan kecuali tersedia sistem irigasi.

Pemangkasan dilakukan dengan memotong dan membuang cabang, ranting dan tunas yang tidak diinginkan, agar didapatkan bentuk tanaman yang ideal sehingga pertumbuhan dan produktivitas tanaman optimal, merangsang tumbuhnya tunas-tunas produktif, meningkatkan sanitasi kebun, serta mengurangi resiko serangan OPT dan memudahkan pemeliharaan tanaman, untuk mendapatkan tajuk tanaman yang ideal, sehingga pertumbuhan dan perkembangan serta produktivitas tanaman jeruk yang optimal.

Pemangkasan bentuk,  pilih tiga tunas yang tumbuh seimbang, biasanya pada tiga tunas yang letak teratas berurutan, pemangkasan bentuk biasanya dilakukan setelah penanaman 6-12 bulan sehingga tanaman tumbuh membentuk tajuk atau kerangka pohon yang diinginkan. Lakukan pemangkasan berikutnya setelah tumbuh 2 periode pupus dengan rumus 1-3-9 (1 batang utama, 3 batang primer, 9 cabang skunder), dan lakukan pemangkasan bentuk selanjutnya dengan memperhatikan keseimbangan tajuk pohon secara menyeluruh.

Pemangkasan pemeliharaan, pemangkasan dilakukan pada tunas air, ranting kering, tangkai bekas pendukung buah, bagian tanaman yang terserang OPT dan mati, serta ranting yang mengarah kedalam dan saling tumpang tindih dengan pohon lain. Pemangkasan dilakukan dengan cara memotong ranting/cabang dengan potongan miring dan diolesi dengan cat /parafin guna menghindari genangan air/membusuknya ranting/cabang. Pemangkasan pemeliharaan untuk mendapatkan tajuk tanaman yang ideal, sehingga pertumbuhan dan perkembangan serta produktivitas tanaman jeruk yang optimal.

Penyiangan dan Pengendalian Gulma

Kegiatan membuang/mencabut dan mematikan gulma yang tumbuh disekitar tanaman dan menjaga kebersihan kebun dari gulma. Kegiatan ini tujuannya untuk membersihkan lingkungan sekitar tempat tumbuhnya tanaman jeruk agar dapat tumbuh dengan optimal dan mengurangi kompetisi hara antara tanaman utama atau yang dibudidayakan dengan tumbuhan penggangu (gulma).

Mencabut/membuang rumput dan tumbuhan penggangu dengan membabat rata minimal 100cm sekeliling tanaman atau sesuai dengan tajuk tanaman jeruk, sanitasi dilakukan dengan parang/sabit untuk gulma yang berakar pendek dan cangkul untuk gulma yang berakar dalam, dan penyiangan jangan sampai melukai akar tanaman utama, karena bila akar terluka akan menyebabkan penularan penyakit.

Pemupukan

Kegiatan pemupukan adalah pemberian nutrisi pada tanaman agar dapat memenuhi kebutuhan tanaman baik melalui daun atau dibenamkan kedalam tanah berupa pupuk organik dan anorganik. Tujuannya untuk mempertahankan status unsur hara dalam tanah, menyediakan unsur hara secara seimbang bagi pertumbuhan tanaman., meningkatkan mutu buah, khususnya ukuran dan rasa buah dan meningkatkan produktivitas tanaman.

Pada tanah masam, sekitar satu bulan sebelum pemupukan diberikan dolomit agar dicapai pH yang optimal 6-7 dengan cara ditabur disekitar tanaman dan dicampur dengan tanah. Hitung jenis dan jumlah pupuk yang diperlukan mengacu pada hasil uji tanah dan produksi tanaman. Berdasarkan produksi buah secara umum dosis pupuk (N, P dan K) untuk tanaman dewasa sudah berproduksi minimal 3% dari bobot produksi buah atau pemberian disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman, yaitu : Pemupukan pada fase vegetatif (belum berproduksi) dengan dosis : pupuk organik 20-40 kg/ph (seluruh dosis), pupuk anorganik :  ZA 100 gr/ph dan Phonska 100 gr/ph diberikan 2 kali/th masing-masing setengah dosis anjuran. Pemupukan pada fase generatif (sudah berproduksi) dengan dosis : menjelang berbunga/pembentukan kuncup, pupuk organik 20-40 kg/ph (seluruh dosis), Pupuk anorganik : ZA 200gr/ph, phonska 200 gr/ph, saat pembesaran buah/periode pemasakan buah (4 bulan dari munculnnya bunga), pupuk organik 10-20 kg/ph (seluruh dosis), pupuk anorganik : ZA 100gr/ph, phonska 100 gr/ph. 

Saat setelah panen (1-2 minggu setelah panen), pupuk organik 20-40 kg/ph (seluruh dosis), pupuk anorganik : ZA 200gr/ph, phonska 200 gr/ph. Pupuk diberikan dengan membuat alur pupuk melingkar selebar tajuk atau buat lubang pupuk sedalam ± 10 – 15 cm dengan menggunakan cangkul, masukkan/taburkan pupuk kedalam alur/lubang atau takaran secara merata, lalu tutuplah dengan sebagian tanah.
Pupuk daun/cair diberikan pada saat pertunasan, dapat diulang dua kali dengan interval 1 bulan sekali, dengan dosis sesuai anjuran /brosur pupuk yang digunakan, penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi hari dengan merata pada daun.



Pengairan

Merupakan kegiatan memberikan air sesuai dengan kebutuhan tanaman/fase pertumbuhan. Tujuannya untuk menjamin ketersediaan air bagi tanaman untuk mengganti air yang hilang akibat penguapan, hanyut dan lain-lain, sehingga pertumbuhan dan proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman berjalan optimal. Untuk mengurangi akibat kelebihan air perlu dibuat saluran draenase pada daerah yang draenasenya kurang baik.  Penambahan air diberikan terutama pada tanaman muda yang berumur < 3 bulan bila tidak turun hujan lebih dari satu minggu, atau adanya gejala kelayuan pada tanaman yakni bila helaian daun tampak terkulai dan layu.


Penjarangan Buah

Kegiatan penjarangan buah adalah mengurangi jumlah buah dalam setiap pohon, sehingga sesuai dengan daya dukung tanaman untuk menghasilkan buah dengan jumlah, ukuran dan kualitas yang sesuai dengan target yang ditetapkan. Mengatur jumlah buah pada setiap pohon/cabang/ranting sehingga menghasilkan buah yang berkualitas, seragam, memperpanjang masa berbuah serta memperpanjang umur produktif tanaman.
Penjarangan buah dilakukan pada saat buah jeruk sebesar kelereng (diameter ± 2 cm) dan setelah buah selesai mengalami masa gugur (diameter ± 4 cm). Idealnya setiap buah harus didukung sekitar 40 helai daun yang sehat atau setara dengan 1-2 buah per tangkai buah.  Petik/buang buah yang pertumbuhan lebih kecil, tidak normal atau terserang hama dan penyakit. 

Pengendalian Hama dan Penyakit

Kegiatan untuk mengendalikan OPT agar tanaman tumbuh optimal, produksi tinggi dan mutu buah yang baik. Disamping itu untuk menghindari kerugian ekonomi berupa kehilangan hasil (kuantitas) dan penurunan mutu (kualitas) produk, menjaga kesehatan tanaman dan kelestarian lingkungan hidup serta keamanan produk, melakukan pengamatan OPT secara berkala (seminggu sekali) dengan mengambil contoh untuk mengetahui jenis hama dan populasinya, mengenali dan identifikasi gejala serangan, jenis OPT dan musuh alaminya. Untuk mengenali hama atau penyebab penyakit (bila tersedia) gunakan alat bantu berupa contoh awetan hama atau gejala (sympton) dari penyakit. Apabila ragu konsultasikan dengan petugas pengamat hama dan penyakit (POPT/Laboraturium Pengamat Hama dan Penyakit/Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), memperkirakan OPT yang perlu diwaspadai dan dikendalikan.


Jenis OPT tanaman jeruk keprok Tejakula  

Ulat Peliang Daun. Gejala serangan : daun yang masih muda nampak berkerut-kerut dan tidak bisa tumbuh dengan baik, pucuk tanaman berhenti pertumbuhanya, daun yang terserang selanjutnya menjadi kering dan jatuh, dibawah helaian daun nampak lubang berliku-liku warna putih berkilau, pada akhirnya lubang terlihat adanya ulat-ulat. Pengendalian secara mekanis dengan memetik helaian daun yang terserang dan pengendalian secara kimiawi dengan aplikasi pestisida efektif dan sesuai anjuran.

Kutu Daun Jeruk (Aphis). Gejala serangan : tunas atau daun muda yang terserang akan kerdil, menggulung, kering dan rapuh serta tumbuh tunas terhambat dan bila menyerang bunga, bunga akan gugur. Pengendalian secara mekanis dengan memotong bagian daun yang terserang serta mengambil kutunya lalu dimusnahkan dan kimiawi dengan aplikasi pestisida seperti melathion, thiodan dan yang lainnya.

Kutu Putih / Kutu Dompolan. Gejala serangan : pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, produksi menurun serta buah rontok, dan seluruh tanaman tertutup oleh populasi kutu putih, sehingga proses fotosintesis terganggu. Pengendalian mekanis dengan memangkas tanaman yang terserang lalu dibakar/dikubur. dan kimiawi dengan memanfaatkan musuh alami seperti semut dan coccinellidae.

Hama Gayas.  Gejala serangan : hama ini menyerang bagian akar hingga pangkal batang tanaman, adanya bekas gigitan pada akar dan pangkal batang tanaman, tanaman yang terserang menjadi layu, kering dan akhirnya mati. Pengendalian  mekanis dengan memungut larva lalu dimusnahkan, pengolahan lahan minimal 2 kali, pemasangan lampu perangkap untuk menangkap serangga dewasa, dan pembersihan kebun dan secara kimiawi dengan aplikasi atau menabur furadan disekitar areal pertanaman.

CVPD (Citrus Vein Phloem Degenarition). Gejala serangan : belang-belang kuning, (blotching) tidak merata mulai berkembang pada bagian ujung tanaman pada daun yang ketuaannya sempurna, bukan pada daun muda atau tunas,  kemudian daun menjadi kaku dan lebih kecil, tulang daun utama tetap hijau atau berwarna kuning, pada serangan berat daun menguning seluruhnya (seperti defesiensi N) dan terjadi pengerasan tulang daun, pada pohon yang sudah berproduksi menyebabkan buah-buah pada cabang terinfeksi menjadi lebih kecil, tidak simetris, bijinya abortus dan rasanya asam. Pengendalian secara mekanis dengan mengeradikasi pohon pada kebun jeruk yang positif terserang CVPD dan dengan perbaikan budidaya yaitu penggunaan bibit jeruk berlebel bebas penyakit, pengendalian serangga penular CVPD secara cermat, sanitasi kebun secara konsisten, pemeliharaan tanaman secara optimal, kondisi penerapan teknologi pengelolaan kebun dalam satu wilayah.

CTV (Citrus Tristeza Virus). Gejala serangan : adanya lekukan atau celah-celah memanjang pada jaringan kayu pada batang (stem pitting), cabang atau ranting, pemucatan tulang daun berupa garis putus-putus atau memanjang yang tembus cahaya, tanaman tumbuh kerdil, daun kecil-kecil dan kaku serta tepinya melengkung keatas. Pengendalian mekanis dengan mengeradikasi bagian atau tanaman terserang dan sanitasi lingkungan serta pengendalian secara kimiawi dengan aplikasi insektisida berbahan aktif Dimethoate, Monocrotophos, Methidation atau Phosmaphamidon.

Diplodia. Gejala serangan : kulit batang mengelupas (diplodia kering), dan pada diplodia basah muncul belendok berwarna kuning keemasan. Pengendalian  secara mekanis dengan mengeradikasi bagian/tanaman terserang dan sanitasi lingkungan sedangkan pengendalian secara kimiawi dengan pelaburan dengan bubur bordo atau bubur california pada awal dan akhir musim penghujan.

Embun Jelaga. Gejala serangan : daun, ranting dan buah dilapisi oleh lapisan berwarna hitam, buah yang tertutup lapisan hitam biasanya ukurannya lebih kecil dan terlambat masak. Pengendalian secara mekanis dengan eradikasi bagian/tanaman terserang dan sanitasi lingkungan dan pengendalian secara kimiawi dengan memprot dengan detergen 2 – 3% dua kali setahun.

Embun Tepung. Gejala serangan : adanya lapisan tepung pada bagian atas daun yang menyebabkan daun mengering, pada buah yang terserang menjadi kusam,keras dan tidak bisa membesar. Pengendalian secara mekanis dengan mengeradikasi bagian/tanaman terserang dan sanitasi lingkungan dan pengendalian secara kimiawi menjelang bertunas dan diulang saat daun muda dengan pestisida yang berbahan aktif Siporokonazol, Propineb.

Kutu Loncat Jeruk (Diaphorina citri Kuw). Gejala serangan : tunas-tunas muda keriting dan pertumbuhannya terhambat, bila serangan telah parah, bagian tanaman yang terserang akan keriting secara perlahan kemudian mati, nimfa kutu menghasilkan sekresi warna putih transparan berbentuk spiral, berserak diatas permukaan daun atau tunas. Pengendalian  secara mekanis dengan memotongan dan pembuangan daun dan tunas terserang, dan pengendalian biologis dengan  penggunaan alat perangkap kuning (yellow trap) yang dipasang di area pertanaman jeruk. Untuk 1 ha dipasang 10-14 buah perangkap dengan ketinggian setengah tajuk tanaman. Pengendalian secara kimiawi dengan aplikasi insektisida berbahan aktif Dimthoate, Alfametrin, Profenofos, Sipermetrin.

Thrips ( Scirtothrips citri ). Gejala serangan : helai daun menebal, kedua sisi daun agak menggulung keatas dan pertumbuhannya tidak normal, pada buah tampak goresan dipermukaan kulit buah sekeliling tangkai atau melingkar pada sekeliling kulit buah. Pengendalian secara mekanis dengan  sanitasi lingkungan, pengendalian dengan perbaikan budidaya dengan pengaturan tajuk tanaman agar tidak terlalu rapat, sedangkan pengendalian secara kimiawi dengan aplikasi insektisida berbahan aktif Alfametrin/alfasifemetrin 2 ml/ltr menjelang bunga mekar sekali seminggu (3-4 kali ulangan).

Tungau Merah (Panonyncus citri McGregor). Gejala serangan : daun dan buah berbintik-bintik kelabu dan keperakan (Tungau Merah),  warna buah keperakan atau kuning kecoklatan dan selanjutnya berubah menjadi coklat sampai ungu kehitaman (Tungau Karat). Pengendalian secara mekanis dengan membuang bagian tanaman yang terserang dan secara kimiawi dengan aplikasi pestisida berbahan aktif Karbosulfan, Permetrin dan Piridabean 2 ml/ltr, yang disemprotkan pada tanaman menjelang berbunga sebanyak 2-3 kali.

Tungau Karat (Phyllocoptuta oleivora Ashamead). Gejala serangan : daun yang terserang berwarna kuning, terdapat bercak-bercak klorotis dan mengalami keguguran, ranting dan cabang kering, terjadi retakan pada kulitnya, buah kotor dan bila dibersihkan meninggalkan bercak-bercak hijau atau kuning pada kulit buah Pengendalian secara mekanis dengan sanitasi pada pemangkasan dan secara kimiawi dengan  aplikasi pestisida berbahan aktif mineral oil, detergen, organophosphates, Carbonat, Imidacloprid, Diflubenzuron dan Kinoprene.

Kudis.  Gejala serangan : adanya bercak jernih pada daun kemudian berkembang menjadi semacam gabus, berwarna kuning/coklat yang berbatas pada satu permukaan daun saja, pada buah bercak kudis dimulai dari buah pentil. Pengendalian dengan perbaikan budidaya dengan menggunakan batang bawah sehat, pewiwilan buah secara teratur, tajuk tidak rapat sehingga kelembaban tidak terlalu tinggi. Pengendalian secara mekanis dengan mengeradikasi bagian/tanaman terserang dan sanitasi lingkungan sedangkan cara kimiawi dengan Aplikasi fungisida yang berbahan aktif Thiaphanate-metyl atau Benomyl.


Busuk Pangkal Batang.  Gejala serangan : adanya pembusukan pada akar dan gummosis (belendok) pada permukaan kulit batang, pembusukan dimulai dari pangkal batang dekat permukaan tanah sampai ketinggian 40 cm, yang kemudian menyebabkan luka keliling dan mati. Pengendalian dengan perbaikan budidaya menggunakan batang bawah sehat dan tahan terhadap Phyptoptora spp, lahan pertanaman seteril. Pengendalian mekanis dengan eradikasi bagian/tanaman dengan cara kulit yang terserang terinfeksi dikelupas dengan pisau dan bekas luka pengelupasan dioles dengan Mankozeb atau Oksiklorida tembaga. Pengendalian kimiawi dengan aplikasi atau labur dengan bubur California minimal 2 kali setahun.

 Kanker.  Gejala serangan : adanya bercak putih pada sisi bawah daun yang selanjutnya warna hijau gelap, dibatasi dengan warna kuning agak kebasahan disepanjang tepinya, bagian tengah berbentuk gabus berwarna coklat, luka terjadi dibagian atas dan bawah daun Pengendalian secara mekanis dengan eradikasi bagian/tanaman terserang dan sanitasi lingkungan dan secara kimiawi dengan aplikasi fungisida yang berbahan aktif Copper, antibiotika seperti sterpptomisin atau Kloromosetin

Lalat Buah.  Gejala serangan : buah menguning sebelum waktunya, kalau dibuka buahnya berisi larfa atau belatung. Pengendalian secara mekanis dengan mengeradikasi bagian/ anaman terserang dan sanitasi lingkungan dan secara kimiawi dengan aplikasi insektisida berbahan aktif Dimethoate, Alfametrin, Profenofos, Sipermetrin. Disamping itu bisa juga dikendalikan dengan petrogenol.

Panen.
Rangkaian kegiatan pemungutan buah sesuai saat panen yang telah ditetapkan atau mencapai
kematangan optimal dengan persyaratan yang telah ditentukan. Untuk mendapatkan buah yang sesuai dengan permintaan pasar dengan mutu yang baik sesuai standar pasar yang dituju perlu diperhatikan hal sebagai berikut : hentikan aplikasi pestisida minimal 14 hari sebelum panen, panen dilakukan bila tingkat kematangan 70% dan sekitar 20% telah menguning pada luas pertanaman, usahakan tidak memanen pada saat hujan, udara masih berembun,  potong/ petik buah dengan gunting panen pada bagian tangkai buah dengan menyisakan    satu lembar daun, potong tangkai buah sedekat mungkin dengan pangkal buah, masukkan hasil panen kedalam keranjang secara hati-hati, kemudian diangkut kelokasi pengumpul.

Pasca Panen
Rangkaian kegiatan yang meliputi pembersihan, sortasi buah, pengemasan dan pelabelan terhadap buah hasil panen berdasarkan ukuran dan standar mutu yang telah ditetapkan. Untuk mendapatkan buah dengan standar mutu dengan ukuran yang seragam pada satu kemasan adalah dengan metakan keranjang sortasi pada tempat keluarnya buah dari alat grading, sortir pisahkan buah berdasarkan penampilan buah (warna, kebersihan, cacat pada buah), kemudian sortir ulang hasil pemilihan/grading berdasarkan terserang OPT, busuk, dan ukuran, keringkan dan bersihkan buah dengan sikat halus atau lap bersih, masukkan kedalam keranjang/peti kayu/kotak karton sesuai dengan kebutuhan atau volume yang diinginkan, tutup kotak kemasan dan rekatkan dengan plaster lack ban/paku, beri tanda kode/stiker pada kotak kemasan sesuai dengan ukuran buah, masukkan buah yang telah dikemas kegudang penyimpanan atau kedalam kendaraan pengangkut. Diharapkan buah jeruk yang sampai di tempat tujuan atau konsumen dalam keadaan baik dan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan, baik dari segi warna, ukuran maupun tingkat kematangan. (Baliagrobag -  dari berbagai sumber).


 

 

 


bottom

Bali Agrobag PT . Powered by Joomla!. Design by: themza joomla 2.5 theme  Valid XHTML and CSS.